SELAMAT DATANG DIBLOG AHMAD BASUKI

Blog Archive

KETRAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN

I.‎ PENDAHULUAN Guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi muridnya, begitulah filsafah yang ‎sering kita dengar. Peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai ‎pemimpin pendidikan diantara murid-murid suatu kelas. Dalam arti sempit guru yang ‎berkewajiban mewujudkan suatu program kelas adalah orang yang kerjanya mengajar atau ‎memberikan pelajaran di sekolah atau kelas. ‎ Sedangkan secara lebih luas guru berarti orang yang bekerja dalam bidang ‎pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak untuk ‎mencapai kedewasaan masing-masing dalam berpikir dan bertindak. ‎ Guru dalam pengertian terakhir bukan sekedar orang yang berdiri di depan kelas saja ‎untuk menyampaikan materi dan pengetahuan tertentu, akan tetapi guru juga menuju sebuah cita-cita luhur mereka. ‎ Untuk mencapai hal tersebut maka dibutuhkan keterampilan-keterampilan dasar ‎seorang guru dalam mengajar. Dalam makalah ini, kami membahas salah satu keterampilan ‎mengajar, yaitu keterampilan membuka dan menutup pelajaran.‎ II.‎ RUMUSAN MASALAH A.‎ Apa pengertian membuka dan menutup pelajaran?‎ B.‎ Apa tujuan membuka dan menutup pelajaran?‎ C.‎ Apa saja prinsip-prinsip membuka dan menutup pelajaran?‎ D.‎ Apa saja komponen-komponen membuka dan menutup pelajaran?‎ III.‎ PEMBAHASAN A.‎ Pengertian membuka dan menutup pelajaran Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan keterampilan dasar ‎mengajar yang harus dikuasai dan dilatihkan bagi calon guru agar dapat mencapai tujuan ‎pembelajaran secara efektif, efisien dan menarik. Keterampilan membuka pelajaran ‎merupakan upaya guru dalam memberikan pengantar/pengarahan mengenai materi yang ‎akan dipelajari siswa sehingga siswa siap mental dan tertarik mengikutinya. Sedangkan ‎keterampilan menutup pelajaran merupakan keterampilan membantu siswa dalam ‎menemukan konsep, prinsip, dalil, hukum atau prosedur dari inti pokok bahasan yang ‎telah dipelajari ‎.‎ Membuka dan menutup pelajaran bukan sekedar mengabsen Siswa. Membuka ‎pelajaran merupakan kegiatan dan pernyataan guru untuk mengaitkan pengalaman siswa ‎dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kegiatan ini dimaksudkan untuk ‎menciptakan prakondisi agar mental dan perhatian siswa tertuju pada materi pelajaran ‎yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan pada awal ‎pelajaran saja melainkan juga pada awal setiap penggal kegiatan, misalnya, pada saat ‎memulai kegiatan tanya jawab, mengenalkan konsep baru, memulai kegiatan diskusi, ‎mengawali pengerjaan tugas, dan lain-lainnya.‎ membuka pelajaran dimaksudkan untuk menyiapkan mental siswa agar ikut ‎merasa terlibat memasuki persoalan yang akan dibahas dan memicu minat serta ‎pemusatan perhatian siswa pada materi pelajaran yang akan dibicarakan dalam kegiatan ‎pembelajaran.‎ Menutup pelajaran merupakan kegiatan dan pernyataan guru untuk menyimpulkan ‎atau mengakhiri kegiatan inti. Menutup pelajaran juga dapat dilakukan pada akhir setiap ‎penggal kegiatan, misalnya mengakhiri kegiatan diskusi, tanya jawab, menindaklanjuti ‎pekerjaan rumah yang telah dikerjakan siswa dan lain-lainnya.‎ Kegiatan menutup pelajaran dilakukan dengan maksud untuk memusatkan ‎perhatian siswa pada akhir penggal kegiatan atau pada akhir pelajaran, misalnya ‎merangkum atau membuat garis besar materi yang baru saja dibahas, mengkonsolidasikan ‎perhatian siswa pada hal-hal pokok dalam pelajaran yang sudah dipelajari, dan ‎mengorganisasikan semua kegiatan ataupun pelajaran yang telah dipelajari menjadi satu ‎kebulatan yang bermakna untuk memahami esensi pelajaran itu B.‎ Tujuan Membuka dan Menutup Pelajaran Kegiatan membuka pelajaran membantu guru memperoleh informasi langsung ‎tentang kesiapan siswa di dalam mengikuti pelajaran. Sejauhmana siswa telah mencapai ‎kompetensi yang telah ditetapkan. Dengan demikian pembelajaran akan dimulai sesuai ‎dengan kondisi awal siswa di kelas tersebut. ‎ Apabila menurut pengamatan guru siswa masih belum siap untuk belajar,jika ‎aktivitas dan perhatian siswa belum tertuju pada pembelajaran, guru harus memberi ‎dorongan untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk memulai pembelajaran. ‎Apabila anak sudah siap untuk mengikuti pembelajaran, hal pertama yang dilakukan guru ‎pada saat membuka pelajaran adalah menyampaikan tujuan pembelajaran. Ini penting ‎bagi anak agar mereka siap secara psikologis. Dengan mengetahui tujuan pembelajaran ‎siswa tahu apa yang didapatkan dari pembelajaran tersebut serta apa manfaatnya bagi ‎mereka. ‎ Penyampaian strategi pelajaran kepada siswa merupakan hal penting lainnya yang ‎harus dilakukan guru di dalam membuka pelajaran. Bagi siswa ini merupakan gambaran ‎bagaimana cara mereka mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan. Kapan dan ‎bagaimana bentuk keikutsertaan mereka di dalam kegiatan pembelajaran. Bila ‎diibaratkan naik perahu pembelajaran, mereka tahu kemana perahu tersebut akan menuju, ‎bagaimana kondisi jalan akan dilewati, serta kapan dan apa yang harus mereka lakukan ‎untuk membantu nakhoda mencapai tujuan. ‎ Secara garis besar tujuan semua aktivitas membuka dan menutup pelajaran yang ‎dilakukan oleh guru diharapkan bermanfaat bagi siswa untuk:‎ ‎1.‎ Menumbuhkan perhatian dan motivasi untuk berpartisipasi di dalam pembelajran ‎2.‎ Memahami batas-batas yang akan dipelajari dan dikerjakan ‎3.‎ Mengetahui gambaran yang jelas tentang strategi dan pendekatan pembelajaran ‎4.‎ Mengetahui hubungan antara pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimiliki ‎dengan apa yang akan dipelajari, ‎ ‎5.‎ Menggabungkan fakta, keterampilan, atau konsep-konsep yang tercakup di dalam ‎suatu peristiwa ‎6.‎ Mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari materi ajar. ‎ ‎7.‎ Memusatkan perhatian siswa pada akhir penggal kegiatan atau pada akhir pelajaran C.‎ Prinsip- Prinsip Membuka dan Menutup Pelajaran Penerapan keterampilan membuka dan menutup pelajaran harus dilaksanakan secara ‎efektif sehingga hasil pembelajaran bermakna bagi peserta didik. Oleh karena itu prinsip-‎prinsip berikut harus diperhatikan oleh setiap guru.‎ ‎1.‎ Bermakna Agar kegiatan membula dan menutup pelajaran bermakna, kegiatan tersebut harus ‎relevan dengan tujuan dan materi pembelajaran yang disajikan serta sesuai dengan ‎karakteristik peserta didik.‎ ‎2.‎ Berurutan dan berkesinambungan Kegiatan membuka dan menutup pelajaran tidak bisa dilakukan terpisah-pisah. ‎Keduanya merupakan satu kesatuan yang harus ditetapkan secara berurutan dan ‎berkesinambungan.‎ ‎3.‎ Dilakukan setiap awal dan akhir topik Kegiatan membuka dan menutup tidak hanya dilakukan di awal dan di akhir ‎pelajaran tetapi dapat dilakukan pada setiap awal dan akhir penggal kegiatan.‎ ‎4.‎ Antusiasme dan Kehangatan dalam Mengomunikasikan Gagasan Antusiasme menandai kadar motivasiyang tinggi dari guru danhasil ini akan ‎berpengaruh pada motivasi yang tinggi pula pada peserta didik. Antusiasme dan ‎kehangatan dapat ditunjukkan misalnya bertanya kabar peserta didik, menanyakan ‎mengapa teman mereka tidak bisa masuk, atau bercerita sedikit yang dapat ‎menyentuh perasaan, atau kegiatan lain yang menujukkan rasa simpati dan empati ‎dalam rangka menciptakan antusiasme dan kehangatan.‎ ‎5.‎ Fleksibel (Penggunaan secara luas)‎ Fleksibel dalam kaitan ini berarti penggunaan yang tidak kaku, dalam arti tidak ‎terputus-putus uatau lancar. Kelancaran dalam gagasan, ide atau cerita dapat ‎memudahkan peserta didik dalam mengoprasi keutuhan koonsep bahsan yang akan ‎dipelajari.‎ Selain prinsip-prinsip di atas ada prinsip-prinsip teknis dalam membuka pelajaran ‎yang harus diperhatikan, yaitu:‎ ‎1.‎ Singkat, padat dan jelas ‎2.‎ Keterampilan tidak diulang-ulang atau berbelit-belit ‎3.‎ Menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak ‎4.‎ Disertai contoh atau ilustrasi seperlunya ‎5.‎ Mengikat perhatian anak D.‎ Komponen-Komponen Membuka dan Menutup Pelajaran Komponen utama keterampilan membuka dan menutup pelajaran dapat dijabarkan ‎sebagai berikut:‎ ‎1.‎ Motivasi ‎ Dapat dinyatakan bahwa motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan ‎situasi tertentu yang dihadapinya. Karena itulah terdapat perbedaan dalam kekuatan ‎motivasi yang ditunjukkan oleh seseorang dalam menghadapi situasi tertentu ‎dibandingkan orang-orang lain yang menghadapi situasi yang sama.‎ ‎ Sebagian besar ‎para pakar psikologi menyatakan bahwa motivasi merupakan konsep yang ‎menjelaskan alasan seseorang berperilaku.‎ Motivasi tidak hanya penting untuk membuat siswa melakukan aktivitas belajar, ‎melainkan juga menentukan berapa banyak siswa dapat belajar dari aktivitas yang ‎mereka lakukan atau itau informasi yang mereka hadapi. Siswa yang termotivasi ‎menunjukkan proses kognitif yang tinggi dalam belajar, menyerap, dan mengingat ‎apa yang telah dipelajari. Tugas seorang guru adalah merencanakan cara-cara ‎mendukung motivasi siswa.‎ Adapun cara untuk memotivasi siswa itu bermacam-macam. Seperti memberikan ‎petuah, kata-kata bijak, permainan dan juga cerita. Menurut Jenn Chreve “sebuah ‎permainan yang baik dapat memotivasi para siswa untuk memahami berbagai hal ‎yang sebelumnya belum pernah/ tidak ingin mereka ketahui”.‎ Cerita adalah sastra berbentuk tulisan (yang dikonsumsi melalui bacaan)/ berbentuk ‎cerita lisan (yang dikonsumsi melalui audiensi). ‎ Guru yang telah memiliki bakat ‎dalam mengarang cerita, cukup menggunakan cerita yang sudah ia miliki.‎ ‎2.‎ Menarik perhatian siswa Menarik perhatian siswa bisa dilakukan dengan melaksanakan suatu permainan kecil. ‎Pastinya anak-anak suka permainan. Ketika permainan itu berlangsung pasti mereka ‎mendengar instruksi dari guru dengan penuh perhatian, seusai itu perhatian mereka ‎akan tertuju pada guru kembali dan kembali pada pelajaran yang sedang berlangsung. ‎Permainan itu menyenangkan. Jika sesuatu yang menyenangkan, kita ingin ‎melakukannya lagi. Begitupun dengan anak-anak. Selain dengan permainan, guru ‎bisa menarik perhatian siswa dengan cara-cara yang lain. Cara tersebut akan berbeda ‎antara guru satu dengan yang lainnya.‎ ‎3.‎ Memberikan acuan Acuan diberikan agar peserta didik engetahui gambaran singkat mengenai topic yang ‎akan dibahas, cara yang ditempuh dapat dengan mengemukakan tujuan dan batas-‎batas tugas, langkah-langkah pelaksanaan dan mengajukan pertanyaan.‎ ‎4.‎ Membuat kaitan Kaitan antara pengalaman peserta didik dan materi akan membuat pembelajaran ‎menjadi bermakna, cara yang bias dilakukan adalah dengan mengulas singkat ‎pelajaran yang lalu.‎ ‎5.‎ Meninjau kembali Guru dapat meninjau pemahaman peserta didik terhadap hal-hal yang telah dipelajari, ‎cara yang bias dilakukan ialah meminta peserta didik membuat rangkuman atau ‎ringkasan gtentang materi sebelumnya.‎ ‎6.‎ Mengadakan evaluasi penugasan peserta didik Pada setiap akhir penggal kegiatan, guru dapat mengevaluasi peserta didik dengan ‎cara memberikan tugas. Tugas-tugas yang diberikan dapat berupa penerapan konsep ‎pada konteks yang berbeda, ekspresi pendapat sendiri, dan Tanya jawab serta ‎pengerjaan soal-soal latihan ‎7.‎ Memberi tindak lanjut Tindak lanjut dapat diberikan dalam bentuk pekerjaan rumah, kunjungan atau ‎percobaan.‎ IV.‎ KESIMPULAN Dari penjelasan yang telah di jelaskan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ‎keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan salah satu hal yang penting bagi ‎seorang guru dalam melakukan proses pembelajaran. Membuka pelajaran merupakan awal ‎dilaksanakannya proses pembelajaran, jika hal ini dilakukan dengan baik dan benar akan ‎membawa dampak yang positif terhadap keberhasilan proses kegiatan berikutnya. Untuk ‎mengetahui apakah proses tersebut dilakukan dengan baik dan benar, maka ada salah satu ‎keterampilan yang harus dilakukan oleh guru, yaitu keterampilan menutup pelajaran. Semoga ‎dengan kita mampu menguasai keterampilan dasar tersebut dapat menjadikan dan ‎memotivasi diri kita sebagai guru yang professional sehingga mampu menghantarkan murid-‎murid yang diajarkan dapat menuju pendidikan yang sempurna.‎ V.‎ PENUTUP Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kehaditrat Allah SWT. Yang telah ‎mencurahkan rahmatNYA sehingga makalah ini dapat terselesaikan, dengan kerendahan ‎hati, pemakalah akui makalah ini jauh dari sempurna, banyak kekurangan di dalamnya. Oleh ‎karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kebaikan makalah ‎selanjutnya, semoga makalah ini bermanfa’at bagi kita semua amin.‎ DAFTAR PUSTAKA Anni, Catharina Tri, Psikologi belajar, Semarang: UPT UNNES Press, 2004. ‎ Aqib,Zainal, Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan Cendekia, 2003‎ Arifin, Bainawi & Mohammad, Etika dan Profesi Pendidikan, Malang: Ar Ruzz Media,2012.‎ Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan anak didik dalam interaksi edukatif, Jakarta : Rineka ‎Cipta,2005.‎ Gollnick, Gene E. Hall, Linda Quinn, Donna M, Mengajar dengan senang, Jakarta: Indeks, ‎‎2008.‎ Majid, Abdul Aziz, Abdul , mendidik anak lewat cerita, Jakarta: Mustaqim, 2003.‎ Marno,dkk, Strategi dan Metode Pengajaran, Malang : Arruzmedia,2008.‎ Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Prenada ‎Media Group,2010.‎ Siagian, Sondang P, Teori motivasi dan aplikasinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.‎

ALAMAT EMAIL MEDIA MASSA

Email koran, majalah. Alamat kirim artikel No Media Rubrik Hari Email Karakter ‎1.‎ Wawasan wacana mahasiswa Selasa (bertema)‎ artikelwawasan@gmail.com ‎4.500‎ Artikel Umum Setiap hari artikelwawasan@gmail.com ‎7000-an ‎2.‎ Suara Merdeka Debat mahasiswa Sabtu (bertema)‎ kampus_sm@yahoo.co.id ‎2.500‎ Forum Halaman Kampus Sabtu kampus_sm@yahoo.co.id cerpen-sastra Minggu triwikromo@yahoo.com swarasastra@gmail.com‎ ‎10.000‎ wacana lokal Setiap hari wacana_lokal@suaramerdeka.info & Max 6.000‎ Blog Print Minggu konek@ymail.com ‎3000-an suara perempuan Rabu perempuan_sm@yahoo.co.id ‎5.000‎ Wacana nasional Setiap hari wacana_nasioanl@suaramerdeka.com Max 7.500‎ Teknologi Senin Teknologi_sm@yahoo.com ‎5.000-an Resensi Minggu swarasensi@yahoo.com Max 5.000‎ ‎3.‎ Jawa Pos artikel Setiap hari editor@jawapos.co.id, editor@jawapos.com ‎6.000‎ Resensi*‎ Minggu ariemetro@yahoo.com ‎6.000‎ cerpen*‎ minggu ariemetro@yahoo.com ‎10.000-an Puisi Minggu ariemetro@yahoo.com Bebas ‎4.‎ Seputar Indonesia Suara mahasiswa Senin-Jumat redaksi@seputar-indonesia.com ‎2.500‎ Cerpen Minggu redaksi@seputar-indonesia.com ‎10.000 min‎ Artikel Setiap hari redaksi@seputar-indonesia.com ‎6.000-an Resensi Minggu redaksi@seputar-indonesia.com ‎5.000-an Puisi Minggu redaksi@seputar-indonesia.com Bebas ‎5.‎ Kompas Forum-Akademia Jumat (bertema)‎ kompasjateng@kompas.com ‎4.500-an Kota kita selasa kompasjateng@kompas.com ‎2.5oo‎ Bahasa Resensi minggu opini@kompas.com ‎7.000-an Pustaka loka Nggak tetap opini@kompas.com ‎7.000-an Humaniora teroka sabtu opini@kompas.com ‎7.000-an Puisi minggu opini@kompas.com Bebas Cerpen minggu opini@kompas.com ‎12.000-an Kompas jateng (FORUM)‎ Setiap hari kompasjateng@kompas.com ‎6.000-an Kompas Jatim Setiap hari kompas@sby.ddnet.net.id Bebas Kompas Jabar Setiap hari kompasjabar@kompas.com Bebas Artikel umum Setiap hari opini@kompas.com ‎7.000-an ‎6.‎ Kompas Online Resensi, puisi, Ceritaku Setiap hari jodhi@kompas.com, nanagung@gmail.com bebas ‎7.‎ Solo Pos mimbar mahasiswa Selasa (bertema)‎ solopos@bumi.net.id ‎5.000-an Cerpen, puisi, resensi, artikel Setiap hari solopos@bumi.net.id Karepmu ‎“...Alamat tujuan tulisanmu..‎ ‎8.‎ Kedaulatan rakyat Suara mahasiswa,‎ Kamis, topik bebas redaksi@kr.co.id ‎2.500-an Cerpen, resensi, puisi, artikel umum Setiap hari redaksi@kr.co.id Karepmu ‎9.‎ Cempaka Cerpen Seminggu sekali cempakamingguini@yahoo.com ‎10.000-an ‎10‎‎.‎ Media Indonesia Opini Setiap Hari redaksi@mediaindonesia.co.id ‎7.000-an Resensi Sabtu miweekend@mediaindonesia.com ‎5.000-an Local Wisdom Sabtu miweekend@mediaindonesia.com ‎6.000-an ‎11‎‎.‎ NU online Artikel keagamaan,‎ Setiap hari redaksi@nu.or.id Bebas Resensi Setiap hari redaksi@nu.or.id Bebas ‎12‎‎.‎ JIL Online Artikel keagamaan, resensi Setiap hari redaksi@islamlib.com Bebas ‎13‎‎.‎ Surabaya post Artikel Setiap hari Surabaya_news@yahoo.com ‎6.500-an Resensi Minggu Surabaya_news@yahoo.com, zahiria@yahoo.com ‎5.000-an Puisi Minggu Surabaya_news@yahoo.com, zahiria@yahoo.com Bebas Cerpen Minggu Surabaya_news@yahoo.com, zahiria@yahoo.com ‎7.000-an Oeuvre (studi pemikiran/tokoh)‎ minggu Surabaya_news@yahoo.com, zahiria@yahoo.com ‎8.000‎ Esai budaya minggu Surabaya_news@yahoo.com, zahiria@yahoo.com ‎5.000-an ‎14‎‎.‎ Harian Tempo Ruang Baca (Ulasan Buku Mendalam)‎ Minggu Akhir bulan ktminggu@tempo.co.id ‎6-7 ribu‎ Puisi Minggu ktminggu@tempo.co.id Bebas Cerpen Minggu ktminggu@tempo.co.id ‎10.000-an Resensi Minggu ktminggu@tempo.co.id ‎5.000-an Ide Minggu ktminggu@tempo.co.id ‎6.000-an Artikel Setiap hari koran@tempo.co.id Perjalanan Minggu ktminggu@tempo.co.id ‎10.000-an ‎15‎‎.‎ Pikiran rakyat, bandung Opini umum Setiap hari redaksi@pikiranrakyat.com ‎6.000-an Resensi Minggu redaksi@pikiranrakyat.com ‎5.000-an Puisi Minggu redaksi@pikiranrakyat.com Bebas Cerpen Minggu redaksi@pikiranrakyat.com Bebas ‎16‎‎.‎ Pelita Artikel Setiap hari opini@pelitaonline.com Bebas ‎17‎‎.‎ Batam pos Artikel Setiap hari redaksi@batampos.co.id ‎6.000-an Resensi Minggu redaksi-minggu@batampos.co.id ‎6.000-an Puisi Minggu redaksi-minggu@batampos.co.id Bebas Cerpen Minggu redaksi-minggu@batampos.co.id ‎10.000-an Esai budaya Minggu redaksi-minggu@batampos.co.id ‎6.000-an ‎18‎‎.‎ Koran Pak Oles Artikel ‎19‎‎.‎ Koran Jakarta Resensi Tiap hari redaksi@koran-jakarta.com ‎4.000-an ‎20.‎ Horizon Cerpen Sebulan sekali horisoncerpen@centrin.net.id Bebas Puisi Sebulan sekali horisonpuisi@centrin.net.id bebas ‎21.‎ Gatra ‎22.‎ Majalah Tempo ‎23.‎ Bisnis Indonesia Artikel Setiap hari redaksi@bisnis.co.id bebas ‎24.‎ Republika Artikel Setiap hari sekretariat@republika.co.id ‎6.000-an Hikmah Setiap hari sekretariat@republika.co.id ‎2.500‎ ‎25.‎ Surya Semua Kategori Setiap hari surya1@padinet.com Bebas ‎26.‎ Bali Post Semua Kategori balipos@indo.net.id ‎27.‎ Bernas Semua Kategori bernasjogja@yahoo.com ‎28.‎ Suara Pembaruan Opini Setiap hari koransp@suarapembaruan.com Bebas Sastra/Resensi Minggu budaya@suarapembaruan.com Bebas ‎29.‎ Sinar Harapan Semua Kategori Setiap hari opinish@sinarharapan.co.id Bebas ‎30.‎ Suara Karya Semua Kategori Setiap hari redaksi@suarakarya-online.com Bebas ‎31.‎ Lampung Post Semua Kategori Setiap hari redaksilampost@yahoo.com Bebas Diposkan 10th September 2012 oleh RockMan downloadan

KURIKULUM TINGKAT ASATUAN PPENDIDIKAN (KTSP)


Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, ‎isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman ‎penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan ‎tertentu (BSNP, 2006). KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan ‎dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan ‎pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat ‎satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah rencana ‎pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang ‎mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, ‎kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat ‎belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ‎ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator ‎pencapaian kompetensi untuk penilaian.‎
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah unutk memandirikan dan ‎memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) ‎kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan ‎pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.‎
Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk:‎
‎1.‎    Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemnadirian dan inisiatif sekolah ‎dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber ‎daya yang tersedia.‎
‎2.‎    Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam ‎mengembangankan kurikulum melalui pengembalian keputusan bersama.‎
‎3.‎    Meningkatkan kompetesi yang sehat antar satuan pendidikan yang akan ‎dicapai.‎
Memahami tujuan di atas, KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola ‎pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah ‎yang sedang digulirkan sewasa ini. Oleh Karen itu, KTSP perlu diterapkan oleh ‎setiap satuan pendidikan, terutama berkaitan dengan tujuh hal sebagi berikut.‎
‎1.‎    Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi ‎dirinya sehingga dia dapat menoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang ‎tersedia untuk memajukan lembaganya.‎
‎2.‎    Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input ‎pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses ‎pendidikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik.‎
‎3.‎    Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk ‎memenuhi kebutuhan seklah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa ‎yang terbaik bagi sekolahnya.‎
‎4.‎    Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan ‎kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih ‎efisien dan efektif jika dikontrol oleh masyarakat sekitar.‎
‎5.‎    Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing ‎kepada pemerintah, orangtua peserta didik, dam masyarakat pada umumnya, ‎sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan ‎mencapai sasaran KTSP.‎
‎6.‎    Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain ‎untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan ‎dukungan orangtua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah ‎setempat.‎
‎7.‎    Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan ‎yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasikannya dalam KTSP.‎
Landasan KTSP
‎1.‎    UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
‎2.‎    PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
‎3.‎    Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
‎4.‎    Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
‎5.‎    Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 ‎dan 23 Tahun 2006‎
Ciri-ciri KTSP
‎1.‎    KTSP memberi kebebasan kepada tiap-tiap sekolah untuk menyelenggarakan ‎program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan ‎peserta didik, sumber daya yang tersedia dan kekhasan daerah.‎
‎2.‎    Orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam proses ‎pembelajaran.‎
‎3.‎    Guru harus mandiri dan kreatif.‎
‎4.‎    Guru diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran.‎

Perbedaan antara KTSP dengan Kurikulum lama
Aspek    Kurikulum lama    KTSP
Dokumen
    Seluruh dokumen ‎kurikulum direncanakan, ‎dibuat, dan ‎dikembangkan oleh pusat
    Komponen dan materi pokok minimal ‎dikembangkan pusat, sedangkan ‎Silabus dan bahan ajar direncanakan ‎dan dikembangkan  oleh sekolah atau ‎satuan pendidikan
    Diformulasikan secara ‎kaku, tidak luwes dan ‎kurang dinamis, sehingga ‎tidak memberikan ‎peluang kepada daerah ‎‎,sekolah, dan guru  untuk ‎mengembangkan potensi ‎yang ada    Semua diserahkan kepada daerah, ‎satuan pendidikan, dan guru sesuai ‎dengan kebutuhannya, asal memenuhi ‎standar minimal yg ditentukan .‎
Isi
    Materi padat dan ‎tumpang tindih. Terlalu ‎banyak hafalan, kurang ‎mengarah pada ‎pembentukan sikap ilmiah ‎dan kepribadian melalui ‎pengembangan ‎ketrampilan dan sikap.‎    Materi dibentuk  untuk mengarah pada ‎kompetensi yang dituntut. Karena ‎berbasis kompetensi, maka materi ‎pokok bukan hafalan, tetapi mengarah ‎pada kompetensi yang dituntut.‎
Persiapan
    Guru diminta ‎mempersiapkan AMP ‎‎(Analisis Materi ‎Pelajaran), Program ‎Tahunan, Program Catur ‎Wulan, Program Satuan ‎Pelajaran dan Rencana ‎Pembelajaran
    Guru diminta membuat Silabus, ‎Program Tahunan, Program Semester,  ‎Rencana /Skenario Pembelajaran, dan ‎Bahan Ajar

Proses
    Materi yang terlalu ‎banyak sehingga ‎menyulitkan guru dan ‎siswa
    Guru diberi kebebasan berkreasi dalam  ‎mengembangkan secara kreatif materi ‎pokok  untuk mencapai kompetensi ‎yang ditentukan

    Dalam pelaksanaan ‎kurang memperhatikan ‎learning to know, ‎learning to do, learning ‎to  live together, dan ‎learning to be secara ‎proporsional . ‎    Kesemua itu diakomodasikan secara ‎integratif dan proporsional

    Formulasi dan ‎pelaksanaan kurikulum ‎kurang memperhatikan ‎keutuhan aspek kognitif, ‎afrktif, dan psikomotorik
    Ketiganya merupakan suatu keutuhan ‎dalam pencapaian kompetensi

    Siswa sebagai obyek ‎pendidikan dalam proses ‎pembelajaran
    Siswa sebagai subyek pendidikan ‎‎(student centered learning)‎
    Kecakapan hidup (life ‎skill) kurang ‎terakomodasi dalam ‎kurikulum dan proses ‎pembelajaran, karena ‎mengejar  target kurikuler
    Terakomodasi secara terpadu dan ‎proporsional dalam kurikulum dan ‎proses pembelajarannya

    Berorientasi pada proses ‎dan target kurikulum
    Berorientasi pada output kompetensi ‎siswa


Kelebihan KTSP
‎1.‎    Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan ‎pendidikan. salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu ‎adalah adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat ‎kepada situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan ‎lokal.‎
‎2.‎    Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk ‎meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program ‎pendidikan.‎
‎3.‎    KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk memusatkan dan ‎mengembangkan mata pelajaran. Sekolah dapat menitikberatkan pada mata ‎pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya. Sebagai contoh ‎daerah kawasan wisata dapat mengembangkan kepariwisataan dan bahasa ‎inggris, sebagai keterampilan hidup.‎
‎4.‎    KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena ‎menurut ahli beban belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan ‎jiwa anak.‎
‎5.‎    Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.‎
‎6.‎    Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, ‎kemampuan atau kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan ‎pekerjaan masyarakat sekitar.‎
‎7.‎    Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik ‎kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks sosial budaya.‎
‎8.‎    Pengembangan kurikulum di laksanakan secara desentralisasi (pada satuan ‎tingkat pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama ‎menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum.‎
‎9.‎    Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menyususun dan ‎mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan ‎potensi sekolah kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan ‎masyarakat sekitar sekolah.‎
‎10.‎    Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasarkan ‎pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.‎
‎11.‎    Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, ‎masyarakat, dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik.‎
‎12.‎    Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.‎
‎13.‎    Menggunakan berbagai sumber belajar.‎
‎14.‎    kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangkan

Kekurangan KTSP
‎1.‎    Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada ‎kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan ‎sekolah.‎
‎2.‎    Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai ‎kelengkapan dari pelaksanaan KTSP.‎
‎3.‎    Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik ‎kosepnya, penyusunannya,maupun prakteknya di lapangan

Referensi:‎
http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertian-ktsp.html
http://civicsedu.blogspot.com/2012/06/perbedaan-kurikulum-lama-dengan-‎ktsp.html
http://duniasastradanbahasa.blogspot.com/2011/03/kelebihan-dan-‎kekurangan-ktsp-kurikulum.html
http://www.slideshare.net/darono/ktsp-standar-isi

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)


Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki ‎oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang sering disebut dengan standar ‎kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dikuasai lulusan. Kompetensi ‎menurut Hall dan Jones (1976: 29) adalah "pernyataan yang menggambarkan penampilan ‎suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan dan ‎kemampuan yang dapat diamati dan diukur". Kompetensi (kemampuan) lulusan merupakan ‎modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada ‎kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena itu, penerapan pendidikan berbasis ‎kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat ‎global. Implikasi pendidikan berbasis kompetensi adalah pengembangan silabus dan sistem ‎penilaian berbasiskan kompetensi. ‎
Paradigma pendidikan berbasis kompetensi yang mencakup kurikulum, pembelajaran, ‎dan penilaian, menekankan pencapaian hasil belajar sesuai dengan standar kompetensi. ‎Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada siswa atau mahasiswa melalui proses ‎pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip ‎pengembangan pembelajaran yang mencakup pemilihan materi, strategi, media, penilaian, ‎dan sumber atau bahan pembelajaran. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai siswa atau ‎mahasiswa dapat dilihat pada kemampuan siswa atau mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-‎tugas yang harus dikuasai sesuai dengan standar prosedur tertentu.‎
Dapat didefinisikan bahwa Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah kurikulum ‎yang pada tahap perencanaan, terutama dalam tahap pengembangan ide akan dipengaruhi ‎oleh kemungkinan-kemungkinan pendekatan, kompetensi dapat menjawab tantangan yang ‎muncul. Artinya, pada waktu mengembangkan atau mengadopsi pemikiran kurikulum ‎berbasis kompetensi maka pengembang kurikulum harus mengenal benar landasan filosofi, ‎kekuatan dan kelemahan pendekatan kompetensi dalam menjawab tantangan, serta ‎jangkauan validitas pendekatan tersebut ke masa depan. Harus diingat bahwa kompetensi ‎bersifat terus berkembang sesuai dengan tuntutan dunia kerja atau dunia profesi maupun ‎dunia ilmu. ‎
Di era otonomi seperti sekarang ini kurikulum pendidikan yang belaku secara nasional ‎bukanlah suatu "harga mati" yang harus diterima dan dilaksanakan apa adanya, melainkan ‎masih dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan, sepanjang tidak ‎menyimpang dari pokok-pokok yang telah digariskan secara nasional. Dalam hal ini guru atau ‎dosen adalah pengembang kurikulum yang berada dalam kedudukan yang menentukan dan ‎strategis. Jika kurikulum diibaratkan sebagai rambu-rambu lalu lintas, maka guru adalah ‎pejalan kakinya. ‎
Dengan asumsi bahwa gurulah yang paling tahu mengenai tingkat perkembangan ‎peserta didik, perbedaan perorangan (individual) siswa, daya serap, suasana dalam kegiatan ‎pembelajaran, serta sarana dan sumber yang tersedia, maka guru berwenang untuk ‎menjabarkan dan mengembangkan kurikulum ke dalam silabus pengembangan kurikulum. ‎Silabus ini hendaknya mendasarkan pada beberapa hal, di antaranya: isi (konten), konsep, ‎kecakapan atau keterampilan, masalah, serta minat siswa atau mahasiswa. ‎
Sesuai dengan jiwa otonomi dalam bidang pendidikan seperti pada Peraturan ‎Pemerintah No. 25 tahun 2000, bidang pendidikan dan kebudayaan, pemerintah memiliki ‎wewenang menetapkan: (1) standar kompetensi siswa dan warga belajar serta pengaturan ‎kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman ‎pelaksanaannya, dan (2) standar materi pelajaran pokok. ‎
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan suatu desain kurikulum yang ‎dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu. Mengacu pada pengertian ‎tersebut, dan juga untak merespons terhadap keberadaan PP No.25/2000, maka salah satu ‎kegiatan yang perlu dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Depdiknas adalah menyusun ‎standar nasional untuk seluruh mata pelajaran, yang mencakup komponen-komponen: (1) ‎standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) materi pokok, dan (4) indikator pencapaian. ‎
Standar kompetensi diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan, sikap, ‎dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu matapelajaran. ‎Cakupan standar kompetensi standar isi (content standard) dan standar penampilan ‎‎(performance standard). Kompetensi dasar, merupakan jabaran dari standar kompetensi, ‎adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat ‎diperagakan oleh siswa pada masing-masing standar kompetensi. Materi pokok atau materi ‎pembelajaran, yaitu pokok suatu bahan kajian yang dapat berupa bidang ajar, isi, proses, ‎keterampilam, serta konteks keilmuan suatu mata pelajaran. Sedangkan indikator ‎pencapaian dimaksudkan adalah kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik yang dapat ‎dijadikan sebagai ukuran untuk menilai ketuntasan belajar. ‎
Selanjutnya pengembangan kurikulum 2004, yang ciri paradigmanya adalah berbasis ‎kompetensi, akan mencakup pengembangan silabus dan sistem penilaiannya. Silabus ‎merupakan acuan untuk merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran, ‎sedangkan sistem penilaian mencakup jenis tagihan, bentuk instrumen, dan pelaksanaannya. ‎jenis tagihan adalah berbagai tagihan, seperti ulangan atau tugas-tugas yang harus ‎dikerjakan oleh peserta didik. Bentuk instrumen terkait dengan jawaban yang harus ‎dilakukan oleh siswa, seperti bentuk pilihan ganda atau soal uraian. ‎
Pengembangan kurikulum 2004 harus berkaitan dengan tuntutan standar ‎kompetensi, organisasi pengalaman belajar, dan aktivitas untuk mengembangkan dan ‎menguasai kompetensi seefektif mungkin. Proses pengembangan kurikulum berbasis ‎kompetensi juga menggunakan asumsi bahwa siswa yang akan belajar telah memiliki ‎pengetahuan dan keterampilan awal yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi ‎tertentu. Oleh karenanya pengembangan Kurikulum 2004 perlu memperhatikan prinsip-‎prinsip berikut: ‎
‎1.‎    Berorientasi pada pencapaian hasil dan dampaknya (outcome oriented)‎
‎2.‎    Berbasis pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
‎3.‎    Bertolak dari Kompetensi Tamatan/ Lulusan
‎4.‎    Memperhatikan prinsip pengembangan kurikulum yang berdfferensiasi
‎5.‎    Mengembangkan aspek belajar secara utuh dan menyeluruh (holistik), serta menerapkan ‎prinsip ketuntasan belajar (mastery learning).‎
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum ‎dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ‎ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. Secara ‎materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada ‎cara para murid belajar di kelas.‎
Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. ‎Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu ‎pun, para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka, yakni menerima materi dari ‎guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan ‎untuk menerapkan IPTEK tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski ‎sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai ‎fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam ‎kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek. Dan setiap kegiatan siswa ada ‎nilainya.‎

KURIKULUM 1994

Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran ‎menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar ‎mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini ‎terjadi karena berkesesuaian suasana pendidikan di LPTK (Lembaga ‎Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang ‎proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic ‎Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di ‎sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan ‎cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran ‎pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup ‎banyak.

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan ‎dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang ‎Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian ‎waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem ‎caturwulan.Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu ‎tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa ‎untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.Terdapat ciri-ciri ‎yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai ‎berikut. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan ‎Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup ‎padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)‎

Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem ‎kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat ‎kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan ‎pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan ‎masyarakat sekitar. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih ‎dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik ‎secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat ‎memberikan bentuk soal yang mengarah kepadajawabankonvergen, ‎divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan ‎penyelidikan. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya ‎disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan ‎berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara ‎pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran ‎yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan ‎masalah.‎

Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ‎ke hal yang sulit dan dari hal yang sederhana ke hal yang  ‎komplek.Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu ‎dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. Selama dilaksanakannya ‎kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat ‎dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content ‎oriented), di antaranya sebagai berikut.Beban belajar siswa terlalu berat ‎karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap ‎mata pelajaran.‎

Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan ‎tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang ‎terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. Permasalahan di atas terasa ‎saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum  1994. Hal ini mendorong para ‎pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu ‎upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum ‎‎1994.Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan ‎prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu Penyempurnaan kurikulum secara ‎terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan ‎perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan ‎masyarakat.‎

Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang ‎tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, ‎dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya. Penyempurnaan ‎kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi ‎pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.‎

Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, ‎seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana ‎termasuk buku pelajaran.Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit ‎guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku ‎pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah. ‎Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah ‎dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan ‎penyempurnaan jangka panjang.‎